Kunci Surga yang Terbuang

17 04 2010

Subhanallah.. Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan. Sebanyak apapun amal kebaikannya, jika memutuskan tali silaturahmi sesama muslim makan tidak akan mendapat tempat di surga..inilah yang disebut kunci surga yang terbuang..semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang tidak memutus  tali silaturahmi sesama muslim..Amiinn

Kunci Surga yang Terbuang (Kolom Hikmah – Republika Online)

Oleh Ustaz Kusen MA

Bila semua ibadah kita seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji, berjalan bagus, maka, kelak di akhirat akan diberikan semacam tiket atau kunci untuk masuk surga. Tatkala banyak orang masuk surga, ternyata kita tidak dapat memasukinya, padahal sudah mempunyai tiket untuk memasukinya.
Apakah sebabnya? Padahal, amal kebaikan yang telah kita kumpulkan, bila dihitung jumlahnya sangat banyak. Namun, kenapa bukan surga yang didapatkan, dan sebaliknya malah neraka yang menjadi tempat kita? Itulah kunci surga yang terbuang.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali persaudaraan.” Karena itu, walaupun amal kebaikannya banyak, jika memutuskan hubungan silaturahim dengan sesama Muslim, dia akan ditempatkan di neraka.
Mengapa demikian? Karena manusia punya penyakit hati atau sok. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ali Ridla dikatakan bahwa ketika sedang berkumpul dalam suatu majelis bersama murid-muridnya (hawariyyun), Nabi Isa AS menceritakan kelebihan yang diberikan Allah SWT padanya. Seperti menyembuhkan penyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.
Namun demikian, kata Isa AS, ada satu jenis penyakit yang ia tak mampu menyembuhkannya. Murid-muridnya bertanya jenis penyakit tersebut. Isa menjawab, penyakit itu adalah penyakit hati (sok).
Nabi Isa AS menjelaskan, penyakit sok memiliki ciri khas, yaitu merasa lebih dari yang lain. Merasa lebih cantik, ganteng, hebat, kaya, kuasa, dan benar. Selain itu, orang yang sok itu juga suka membantah (ngeyel), dan ngotot (tak mau kalah).
Imam Al-Ghazalie mengategorikan orang tersebut sebagai Laa Yadri wa Laa Yadri ‘Annahu Laa Yadri (orang bodoh tidak menyadari bahwa dirinya bodoh). Inilah orang bodoh yang merasa pintar. Dia tidak menyadari bahwa sesungguhnya dirinya bodoh, namun ia tidak mau belajar agar menjadi lebih pintar.
Jika manusia sudah mengidap penyakit sok ini, dia tidak akan pernah menyadari kesalahannya. Ia selalu merasa benar, padahal nyata-nyata salah dan ia tidak mau meminta maaf atas kesalahannya.
Jika masing-masing pihak merasa paling benar, maka akan mulai terputuslah tali silaturahim, dan ia tidak berhak mendapatkan surga kendati sudah memiliki kuncinya. Laa yadkhulu al-Jannata Qaththi’un al-Rahim (Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim). Allah berfirman, “Sejelek-jelaknya makhluk (binatang) di sisi Allah adalah mereka yang pekak dan tuli (sok), yang tidak mengerti apa pun.” (QS Al-Anfal [8]: 22). Wa Allahu a’lam.

Bila semua ibadah kita seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji, berjalan bagus, maka, kelak di akhirat akan diberikan semacam tiket atau kunci untuk masuk surga. Tatkala banyak orang masuk surga, ternyata kita tidak dapat memasukinya, padahal sudah mempunyai tiket untuk memasukinya.
Apakah sebabnya? Padahal, amal kebaikan yang telah kita kumpulkan, bila dihitung jumlahnya sangat banyak. Namun, kenapa bukan surga yang didapatkan, dan sebaliknya malah neraka yang menjadi tempat kita? Itulah kunci surga yang terbuang.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali persaudaraan.” Karena itu, walaupun amal kebaikannya banyak, jika memutuskan hubungan silaturahim dengan sesama Muslim, dia akan ditempatkan di neraka.
Mengapa demikian? Karena manusia punya penyakit hati atau sok. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ali Ridla dikatakan bahwa ketika sedang berkumpul dalam suatu majelis bersama murid-muridnya (hawariyyun), Nabi Isa AS menceritakan kelebihan yang diberikan Allah SWT padanya. Seperti menyembuhkan penyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.
Namun demikian, kata Isa AS, ada satu jenis penyakit yang ia tak mampu menyembuhkannya. Murid-muridnya bertanya jenis penyakit tersebut. Isa menjawab, penyakit itu adalah penyakit hati (sok).
Nabi Isa AS menjelaskan, penyakit sok memiliki ciri khas, yaitu merasa lebih dari yang lain. Merasa lebih cantik, ganteng, hebat, kaya, kuasa, dan benar. Selain itu, orang yang sok itu juga suka membantah (ngeyel), dan ngotot (tak mau kalah).
Imam Al-Ghazalie mengategorikan orang tersebut sebagai Laa Yadri wa Laa Yadri ‘Annahu Laa Yadri (orang bodoh tidak menyadari bahwa dirinya bodoh). Inilah orang bodoh yang merasa pintar. Dia tidak menyadari bahwa sesungguhnya dirinya bodoh, namun ia tidak mau belajar agar menjadi lebih pintar.
Jika manusia sudah mengidap penyakit sok ini, dia tidak akan pernah menyadari kesalahannya. Ia selalu merasa benar, padahal nyata-nyata salah dan ia tidak mau meminta maaf atas kesalahannya.
Jika masing-masing pihak merasa paling benar, maka akan mulai terputuslah tali silaturahim, dan ia tidak berhak mendapatkan surga kendati sudah memiliki kuncinya. Laa yadkhulu al-Jannata Qaththi’un al-Rahim (Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim). Allah berfirman, “Sejelek-jelaknya makhluk (binatang) di sisi Allah adalah mereka yang pekak dan tuli (sok), yang tidak mengerti apa pun.” (QS Al-Anfal [8]: 22). Wa Allahu a’lam.

Iklan




kamu

25 03 2010

Memang hanya kamu yang selalu di pikiranku

Benar hanya kamu yang selalu kuinginkan

Mungkin hanya kamu yang sangat berbeda, yang membuat ku merindu

Tak ada yang lain, hanya kamu

Tak pernah ada dan takkan pernah ada selain dirimu

Ingin selalu bersamamu, disampingmu selamanya

(inspired by Geisha-TakKan Pernah Ada)





wanita dunia atau bidadari surga

23 03 2010

rubrik hikmah di republika online memang benar-benar menyegarkan..ini ada satu lagi hadist yang menarik, semoga bermanfaat..

Imam Ath-Thabrany mengisahkan sebuah hadis dari Ummu Salamah. “Wahai, Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, serta rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”
“Lalu, bagaimana tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (QS Alwaqi’ah [56]: 23). Jawabnya, “Kebeningannya seperti mutiara di kedalaman lautan yang tidak pernah tersentuh tangan manusia.”
“Jelaskan lagi kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu, ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan lagi cantik-cantik’.” (QS Arrahman [55]: 70). Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Saya berkata lagi, “Jelaskanlah firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik’.” (QS Ashshaffat [37]: 49). Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar.”
“Manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli?” Rasulullah berkata, “Wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak dengan apa yang tak tampak.”
“Karena apa wanita dunia lebih utama dari mereka?” Beliau menjawab, “Karena, shalat, puasa, dan ibadah mereka. Sehingga, Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka seperti kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas.”




mendekatkan diri dengan-Nya lewat bakti kepada ibu

23 03 2010

Ini adalah sebuah hadist yang saya ambil dari republika online..saya belum pernah tau hadist ini,tapi setidaknya bisa jadi pencerahan..

Syahdan, seorang laki-laki suatu ketika bertanya kepada Ibn Abbas RA, ”Saya meminang seorang wanita, tetapi dia menolak pinangan saya. Setelah itu, datang orang lain meminangnya, lalu dia menerimanya. Saya menjadi cemburu dan membunuhnya. Apakah tobat saya diterima?”

Ibn Abbas bertanya, ”Apakah ibumu masih hidup?” Dia menjawab, ”Tidak.” Ibn Abbas berkata, “Bertobatlah kepada Allah dan mendekatlah kepada-Nya semampumu.” Atha’ bin Yasar yang hadir ketika itu bertanya kepada Ibn Abbas, “Mengapa engkau bertanya kepada lelaki itu, apakah ibunya masih hidup?” Ibn Abbas menjawab, “Saya tidak tahu perbuatan yang paling mendekatkan (seseorang) kepada Allah SWT, melainkan berbakti kepada ibu.” (HR Bukhari).




karier atau keluarga..?

14 03 2010

Sebuah kutipan cerita dari Doctors (Erich Segal) yang membuat saya dan beberapa teman malam ini mendiskusikan sebuah filosofi kehidupan (sebagai dokter), “Mana yang kamu pilih? Karier atau Keluarga?”..  Enjoy it..

Di akhir tahun 1963 para dokter lulusan Harvard Medical School yang sudah menerima ijazah setahun sebelumnya secara nyata melengkapi semua persyaratan untuk melakukan praktik kedokteran di Amerika. Mereka kebanyakan berusia antara 24-29 tahun. Mereka juga kebanyakan jauh dari siap untuk berpraktik, sebab akhir masa kerja sebagai intern kerap kali jadi tanda awal yang baru.

Spesialisasi sebenarnya menuntut konsentrasi intensif pada salah satu aspek spesifik ilmu kedokteran. Seperti anestesi atau farmakologi. Atau pada salah satu jaringan, seperti kulit atau darah. Atau salah satu bagian tubuh, dada atau perut. Atau salah satu organ, mata atau jantung. Atau salah satu teknik fisik, seni bedah. Atau bahkan suatu misteri (meskipun beberapa orang bersikeras ini bukan ilmu pengetahuan), cara kerja pikiran: psikiatri.

Demikianlah, Barney Livingston, MD., sesudah memenuhi segala persyaratan sebagai intern dan ingin menjadi psikoanalisis, perlu menghabiskan tiga tahun lagi sebagai resident psikiatri (dan sesudah itu dua belas bulan lagi atas pilihannya sendiri). Dan bila ingin menjadi anggota penuh suatu lembaga psikiatri ia harus meminta seorang analis senior memeriksa isi kepalanya sendiri. Ini dimaksudkan agar ia lebih memahami pikiran bawah sadarnya sendiri, dan karena itu bisa membantu pasiennya memahami pikiran bawah sadar mereka.

Maka, dengan asumsi ia tidak tersandung di tengah jalan, Barney mungkin akan bebas dan lolos dari semua persyaratan pendidikannya dalam enam atau tujuh tahun. Ini berarti ia akan berdiri sendiri paling tidak pada tahun 1970, pada saat usia 33 tahun. Dengan kata lain ia baru saja akan mulai saat para profesional di bidang lain (seperti adiknya Warren, yang akan mendapatkan gelar sarjana hukum tahun itu) sudah berangkat dan berlari. Ia baru akan mendapatkan penghasilan memadai setelah hampir satu dasawarsa. Dan ini selalu dengan asumsi ia sudah menunaikan wajib militer di antara waktu itu.

Jalan yang ditempuh Barney bukanlah yang paling panjang. Dokter-dokter baru yang bercita-cita menempuh karier dalam ilmu bedah, seperti Bennett dan Grete, sedikitnya masih harus menyelesaikan pelatihan pasca sarjana, satu tahun sebagai intern, dua tahun sebagai resident asisten, satu tahun sebagai asisten pertama, dan dengan asumsi saat itu mereka belum roboh atau pikun, masih ada satu tahun sebagai resident kepala. Tentu saja bila mereka hendak mengambil subspesialisasi, seperti bedah pediatri, masih ada beberapa tahun lagi.

Dokter kerap kali dituduh tak beperasaan, gampang disuap, dan suka memuja diri. Tapi mereka mengingatkan kita bahwa mereka telah mengorbankan musim semi kehidupan mereka, sepenuhnya kehilangan tahun-tahun berharga antara umur dua puluh sampai tiga puluh untuk mendapatkan ketrampilan demi kesejahteraan sesama manusia. Lebih dari itu mereka juga menanggung berbagai kerugian lain. Mereka kebanyakan hanya bisa benar-benar tidur nyenyak tak lebih dari dua minggu selama masa itu. Banyak diantara mereka mengorbankan perkawinan dan kehilangan peluang unik untuk menyaksikan anak-anak mereka tumbuh.

Jadi, bila mereka mengatakan dunia berutang kepada mereka, dalam bentuk kekayaan, penghormatan, dan status sosial, tuntutan mereka itu bukan sama sekali tak beralasan. Lagi pula seperti diperlihatkan angka statistik yang suram, mereka kerap kali menderita lebih parah daripada pasien mana pun. Karena tak seorang pun bisa memperbaiki perkawinan yang hancur atau memulihkan anak-anak yang rusak akibat ditelantarkan ayah mereka.

Ini hanyalah sedikit perspektif yang digambarkan tentang kehidupan dokter masa itu, tetapi sedikit banyak rasanya kehidupan seperti itu masih kita temui pada masa ini..tidak bermaksud mencari pembenaran atas keinginan dokter yang mancari materi duniawi karena tentu semua berpulang pada diri kita masing-masing bagaimana menyikapinya.. Jadi mana yang akan kamu pilih? Karier atau Keluarga? :p





doctors

12 03 2010

ini adalah novel kedua Erich Segal yang saya baca setelah The Class, cukup mengesankan karena menggambarkan bagaimana kehidupan seorang dokter dengan segala macam ceritanya.. Cerita tentang cita-cita, percintaan,perceraian, intrik dan konspirasi, keberhasilan dan kegagalan, keberanian dan ketakutan yang semuanya diramu dalam cerita beberapa dokter lulusan Havard Medical School.

Kisah tentang kehidupan mulai dari kecil, kehidupan saat menempuh pendidikan kedokteran dan saat menjalani kehidupan sebagai seorang dokter diceritakan cukup rinci. Bagaimana pergulatan seorang dokter menghadapi percintaannya, berhubungan dengan teman sejawat, kebimbangan antara arti kehidupan dan kematian dan bagaimana sangat khawatirnya mereka terhadap anak mereka sendiri ketika sakit.

Tetapi bagaimanapun juga, buku ini dengan jujur mengatakan bahwa dokter adalah manusia biasa, manusia yang rapuh, dan  bukan dewa penyembuh apalagi pemilik nyawa seorang manusia. Banyak quote yang cukup menginspirasi saya dan mungkin akan jadi bahan tulisan saya. Pada akhirnya buku ini mengajak kita (terutama para dokter) untuk mengakui dengan kerendahan hati bahwa ilmu kedokteran bukan jawaban atas semua penyakit manusia..





Seutuhnya

11 03 2010

Seorang manusia utuh berhak mendapatkan manusia utuh lain.. Cinta bukanlah pekerjaan paro waktu..

Ughh.. Aku cuma ingin memilikimu.. Memiliki hatimu seutuhnya..